BAB
I
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
DEFINISI
Gagal
ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan
irreversibel (Mansjoer, 2001).
Gagal ginjal kronik adalah penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel di mana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen dan dalam darah) (Smeltzer Suzzane, 2001).
Gangguan fungsi ginjal adalah penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan ringan dan ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat. Uremia adalah sindrom akibat gagal ginjal yang berat gagal ginjal terminal adalah ketidakmampuan renal berfungsi dengan adekuat untuk keperluan tubuh (harus dibantu dialisis atau transplantasi) (Mansjoer, 2001).
B.
ETIOLOGI
1. Diabetes
mellitus
2. Glomerulo
nefritis kronis
3. Piolenefritis
4. Hipertensi yang tidak dapat dikontrol
5. Obstruksi traktus urinarius
6. Lesi
herediter, seperti penyakit ginjal polikistik, gangguan vaskular infeksi
medikasi atau agen toksik.
7. Lingkungan dengan agen berbahaya : timah,
merkuri dan kromium.
(Smeltzer, Suzzane, 2001)
(Smeltzer, Suzzane, 2001)
C.
MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan
gejala gagal ginjal kronik disesuaikan dengan gangguan sistem yang timbul
antara lain :
1. sistem
gastrointestinal : anoreksia, nausea, vomitus, stomatitis dan gastritis.
2. Kult : warna
pucat, gatal-gatal, ekimosis bekas garukan.
3. Sistem
hematologik : anemia, gangguan fungsi trombosit dan lekosit.
4. Sistem saraf dan otot : pegal di tungkai
bawah, rasa kesemutan dan terbakar di telapak kaki, lemah, tak bisa tidur,
tremor. Sistem kardiovaskuler : hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas,
gangguan irama jantung, edema. Sistem endokrin : gangguan seksual, toleransi
glukosa, metabolisme lemak, metabolisme vitamin D. (Soeparman dan Waspadji,
1998).
D.
PATOFISIOLOGI
Pada gagal
ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka
gejala akan semakin berat.
Penurunan
jumlah glomeruli yang normal menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang
seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya glomerulo filtrat rate
(GFR ) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar
kreatinin serum. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus
yang menyebabkan anoreksia, nausea maupan vomitus yang menimbulkan perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Peningkatan
ureum kreatinin sampai ke otak mempengaruhi fungsi kerja, mengakibatkan
gangguan pada saraf, terutama pada neurosensori. Selain itu Blood Ureum
Nitrogen (BUN) biasanya juga meningkat.
Pada penyakit ginjal tahap akhir urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan elektrolit. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal jantung kongestif. Penderita dapat menjadi sesak nafas, akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Dengan tertahannya natrium dan cairan bisa terjadi edema dan ascites. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume cairan dalam tubuh, sehingga perlu dimonitor balance cairannya. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosis metabolik akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Terjadi penurunan produksi eritropoetin yang mengakibatkan terjadinya anemia. Sehingga pada penderita dapat timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap aktifitas.
Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasari, ekskresi protein dalam urin, dan adanya hipertensi (Smeltzer,2002:1448).
E.
PENATALAKSANAAN
1. Dialisis :
Untuk memperbaiki abnormalitas biokimia.
2. Transpaltasi
ginjal
3. Penanganan hiperkalemia
a. Pemberian ion pengganti renin secara oral
b. Pemberian glukosa, insulin, kalsium glikonat secara IV mendorong K+ ke
a. Pemberian ion pengganti renin secara oral
b. Pemberian glukosa, insulin, kalsium glikonat secara IV mendorong K+ ke
dalam
sel-sel
4. Mempertahankan
keseimbangan cairan
5. Pertimbangan
nutrisi
Diet rendah protein, tinggi kalori, rendah kalsium dan fosfat
Diet rendah protein, tinggi kalori, rendah kalsium dan fosfat
6. Cairan IV
dan diuretik
F.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan
Laboratorium
Penilaian CRF dengan
ganguan yang serius dapat dilakukan dengan pemerikasaan laboratorium, seperti :
Kadar serum sodium/natrium dan potassium/kalium, pH, kadar serum phospor, kadar
Hb, hematokrit, kadar urea nitrogen dalam darah (BUN), serum dan konsentrasi
kreatinin urin, urinalisis.
Pada stadium yang cepat pada insufisiesi ginjal, analisa urine dapat menunjang dan sebagai indikator untuk melihat kelainan fungsi ginjal. Batas kreatinin urin rata-rata dari urine tampung selama 24 jam. Analisa urine rutin dapat dilakukan pada stadium gagal ginjal yang mana dijumpai produksi urin yang tidak normal.
Dengan urin analisa
juga dapat menunjukkan kadar protein, glukosa, RBCs/eritrosit, dan
WBCs/leukosit serta penurunan osmolaritas urin. Pada gagal ginjal yang
progresif dapat terjadi output urin yang kurang dan frekuensi urin menurun.Monitor
kadar BUN dan kadar creatinin sangat penting bagi pasien dengan gagal ginjal.
Urea nitrogen adalah
produk akhir dari metabolisme protein serta urea yang harus dikeluarkan oleh
ginjal. Normal kadar BUN dan kreatinin sekitar 20 : 1. Bila ada peningkatan BUN
selalu diindikasikan adanya dehidrasi dan kelebihan intake protein.
2. Pemeriksaan
Radiologi
Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan utntuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain:
Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan utntuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain:
a. Flat-Plat
radiografy/Radiographic keadaan ginjal, uereter dan vesika urinaria untuk mengidentifikasi
bentuk, ukuran, posisi, dan kalsifikasi dari ginjal. Pada gambaran ini akan
terlihat bahwa ginjal mengecil yang mungkin disebabkan karena adanya proses
infeksi.
b. Computer
Tomograohy (CT) Scan yang digunakan untuk melihat secara jelas sturktur anatomi
ginjal yang penggunaanya dengan memakai kontras atau tanpa kontras.
c. Intervenous Pyelography (IVP) digunakan untuk
mengevaluasi keadaan fungsi ginjal dengan memakai kontras. IVP biasa digunakan
pada kasus gangguan ginjal yang disebabkan oleh trauma, pembedahan, anomali
kongental, kelainan prostat, calculi ginjal, abses / batu ginjal, serta
obstruksi saluran kencing.
d. Aortorenal
Angiography digunakan untum mengetahui sistem aretri, vena, dan kepiler pada
ginjal dengan menggunakan kontras . Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada
kasus renal arteri stenosis, aneurisma ginjal, arterovenous fistula, serta
beberapa gangguan bentuk vaskuler.
e. Magnetic
Resonance Imaging (MRI) digunakan untuk mengevaluasi kasus yang disebabkan oleh
obstruksi uropathi, ARF, proses infeksi pada ginjal serta post transplantasi
ginjal.
3. Biopsi
Ginjal untuk mengdiagnosa kelainann ginjal dengan mengambil jaringan ginjal
lalu dianalisa. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus golomerulonepritis,
neprotik sindom, penyakit ginjal bawaan, ARF, dan perencanaan transplantasi
ginjal.
G.
ASUHAN KEPERAWATAN
Menurut
Doengoes (2000), fokus pengkajian pada pasien gagal ginjal kronik antara lain :
1. Aktivitas / istirahat
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : Kelelahan ekstremitas, kelemahan,
malaise, gangguan tidur.
Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat, nyeri dada.
Tanda : Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, nadi
Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat, nyeri dada.
Tanda : Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, nadi
lemah halus, pucat, kuning, kecenderungan
perdarahan
3. Eliminasi
Gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguri, anuri, diare, konstipasi.
Tanda : Perubahan warna urine (kuning pekat, merah, coklat) digouria menjadi
3. Eliminasi
Gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguri, anuri, diare, konstipasi.
Tanda : Perubahan warna urine (kuning pekat, merah, coklat) digouria menjadi
anuri.
4. Integritas ego
Gejala : Faktor stress, perasaan tidak berdaya, tak ada kekuatan.
Tanda : Menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung.
5. Makanan / cairan
Gejala : Peningkatan berat badan dengan cepat, penurunan berat badan (mal
4. Integritas ego
Gejala : Faktor stress, perasaan tidak berdaya, tak ada kekuatan.
Tanda : Menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung.
5. Makanan / cairan
Gejala : Peningkatan berat badan dengan cepat, penurunan berat badan (mal
nutrisi), anoreksia, mual
muntah, nyeri ulu hati.
Tanda : Asites, perubahan turgor kulit.
6. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kejang, kesemutan dan kelemahan.
Tanda : Ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilanan memori, rambut tipis, kuku
Tanda : Asites, perubahan turgor kulit.
6. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kejang, kesemutan dan kelemahan.
Tanda : Ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilanan memori, rambut tipis, kuku
rapuh dan tipis.
7. Nyeri dan kenyamanan
Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala, nyeri dada.
Tanda : Perilaku berhati-hati, gelisah.
7. Nyeri dan kenyamanan
Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala, nyeri dada.
Tanda : Perilaku berhati-hati, gelisah.
8. Pernafasan
Gejala : Napas pendek, batuk dengan atau tanpa sputum
Tanda : Dispnea, peningkatan frekuensi, batuk
9. Keamanan
Gejala : Kulit gatal
Tanda : Pruritus, demam, fraktur tulang.
10. Interaksi sosial
Gejala : Kesulitan menentukan kondisi
H.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan
perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak mampu
mengeluarkan sisa metabolisme.
2. Kelebihan
volume cairan sehubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan
natrium
3. Gangguan
Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pembatasan intake
(Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori
4. Resti
Infeksi sehubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia
5. Resiko
tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit sehubungan dengan efek uremia.
6. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
I.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan
perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak mampu
mengeluarkan sisa metabolisme
Intervensi :
a. Kaji
Perubahan EKG, Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya)
Rasional : Tingginya
gelombang T, Panjangnya interval PR dan Lebarnya kompleks QRS dihubungkan
dengan serum Kalium ; Pernapasan kusmaul dihubungkan dengan acidosis, kejang
yang mungkin terjadi dihubungkan dengan rendahnya calsium
b. Monitor
data-data laboratorium : Serum pH, Hidrogen, Potasium, bicarbonat, calsium
magnesium, Hb, HT, BUN dan serum kreatinin.
Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal.
Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal.
c. Jangan
berikan obat – obat Nephrothoxic.
Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal
Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal
d. Berikan
pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon terhadap
pengobatan.
Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama.
Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama.
e. Monitor
respon terhadap pengobatan untuk menentukan efektivitas obat yang diberikan dan
kemungkinan timbulnya efek samping obat.
2. Kelebihan
volume cairan sehubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan
natrium
Intervensi:
a. Timbang
berat badan pasien setiap hari, Ukur intake dan output tiap 24 jam, Ukur
tekanan darah (posisi duduk dan berdiri), kaji nadi dan pernapasan (Termasuk
bunyi napas) tiap 6-8 jam, Kaji status mental, Monitor oedema, distensi vena
jugularis, refleks hepato jugular, Ukur CVP dan PAWP.
Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit.
Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit.
b. Monitor
data laboratorium : Serum Natrium, Kalium, Clorida dan bicarbonat.
Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit.
Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit.
c. Monitor
ECG
Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic.
Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic.
d. Berikan
cairan sesuai indikasi
Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel.
Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel.
e. Berikan
Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya.
Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll.
Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll.
3. Gangguan
Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pembatasan intake
(Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori.
a. Kaji
terhadap adanya Mual, muntah dan anorexia.
Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi.
Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi.
b. Monitor
intake makanan dan perubahan berat badan ; Monitor data laboratorium : Serum protein,
Lemak, Kalium dan natrium.
Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.
Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.
c. Berikan
makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien.
Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet .
Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet .
d. Bantu
atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan.
Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan.
Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan.
e. Berikan
antiemetik dan monitor responya.
Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.
Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.
f. Kolaborasi
denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien.
Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.
Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.
4. Resiko
tinggi Infeksi sehubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia.
a. Kaji
terhadap adanya tanda- tanda infeksi.
Rasional : Untuk mendeteksi lebih awal adanya infeksi.
Rasional : Untuk mendeteksi lebih awal adanya infeksi.
b. Monitor
temperatur tiap 4 – 6 jam : Monitor data laboratorium : WBC : Darah, Urine,
culture sputum. Monitor serum Kalium.
Rasional : Uremia mungkin terselubung dan biasanya diikuti dengan peningkatan temperatur dicurigai adanya infeksi. Status hipermetabolisme seperti adanya infeksi dapat menyebabkan peningkatan serum kalsium.
Rasional : Uremia mungkin terselubung dan biasanya diikuti dengan peningkatan temperatur dicurigai adanya infeksi. Status hipermetabolisme seperti adanya infeksi dapat menyebabkan peningkatan serum kalsium.
c. Pertahankan
tekhnik antiseptik selama perawatan dan patulah selalu universal precaution.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi.
d. Pertahankan
kebersihan diri, status nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup.
Kebiasaan hidup yang sehat membantu
mencegah infeksi.
5. Resiko
tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit sehubungan dengan efek uremia.
a. Kaji
terhadap kekeringan kulit, Pruritis, Excoriations dan infeksi.
Rasional : Perubahan mungkin disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsius dan phospat pada lapiran cutaneus.
Rasional : Perubahan mungkin disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsius dan phospat pada lapiran cutaneus.
b. Kaji
terhadap adanya petechie dan purpura.
Rasional : Perdarahan yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat uremia.
Rasional : Perdarahan yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat uremia.
c. Monitor
Lipatan kulit dan area yang oedema.
Rasional : Area- area ini sangat mudah terjadinya injuri.
Rasional : Area- area ini sangat mudah terjadinya injuri.
d. Lakukan
perawat kulit secara benar.
Rasional : Untuk mencegah injuri dan infeksi
Rasional : Untuk mencegah injuri dan infeksi
e. Berikan
pengobatan antipruritis sesuai pesanan.
Rasional : mengurangi pruritis.
Rasional : mengurangi pruritis.
f. Gunting
kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih.
Rasional : Untuk mencegah injuri akibat garukan dan infeksi.
Rasional : Untuk mencegah injuri akibat garukan dan infeksi.
D. Diagnosa
Keperawatan
1. Perubahan
pola nafas b.d penurunan suplai O2
2. Perfusi
jaringan perifer b.d suplai O2 menurun,penurunan fungsi eritropoetin
3. Kelebihan
volume cairan b.d penurunan fungsi ginjal:ketidakmampuan ginjal mengekresi air
dan natrium
4. Intoleransi
aktivitas b.d oksigenasi yang tidak adekuat,kelemahan,keletihan
5. Resti
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan ureum
E. Intervensi
Keperawatan
1. Perfusi
jaringan perifer b.d suplai O2 menurun,penurunan fungsi eritropoetin
a. Kaji
Perubahan EKG, Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya)
b. Rasional
: Tingginya gelombang T, Panjangnya interval PR dan Lebarnya kompleks QRS
dihubungkan dengan serum Kalium ; Pernapasan kusmaul dihubungkan dengan
acidosis, kejang yang mungkin terjadi dihubungkan dengan rendahnya calsium
c. Monitor
data-data laboratorium : Serum pH, Hidrogen, Potasium, bicarbonat, calsium
magnesium, Hb, HT, BUN dan serum kreatinin.
Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal.
Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal.
d. Jangan
berikan obat – obat Nephrothoxic.
Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal
Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal
e. Berikan
pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon terhadap
pengobatan.
Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama.
Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama.
f. Monitor
respon terhadap pengobatan untuk menentukan efektivitas obat yang diberikan dan
kemungkinan timbulnya efek samping obat.
2. Perubahan
pola nafas b.d penurunan suplai O2
a. Auskultasi
bunyi nafas, catat adanya crakles
Rasional :Menyatakan adanya pengumpulan sekret
Rasional :Menyatakan adanya pengumpulan sekret
b. Ajarkan
pasien batuk efektif dan nafas dalam
Rasional: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
Rasional: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
c. Atur posisi senyaman mungkin
Rasional: Mencegah terjadinya sesak nafas
Rasional: Mencegah terjadinya sesak nafas
d. Batasi untuk beraktivitas
Rasional : Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia
Rasional : Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia
3. Kelebihan
volume cairan b.d penurunan fungsi ginjal:ketidakmampuan ginjal mengekresi air
dan natrium
a. Timbang
berat badan pasien setiap hari, Ukur intake dan output tiap 24 jam, Ukur
tekanan darah (posisi duduk dan berdiri), kaji nadi dan pernapasan (Termasuk
bunyi napas) tiap 6-8 jam, Kaji status mental, Monitor oedema, distensi vena
jugularis, refleks hepato jugular, Ukur CVP dan PAWP.
Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit.
Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit.
b. Monitor
data laboratorium : Serum Natrium, Kalium, Clorida dan bicarbonat.
Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit.
Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit.
c. Monitor
ECG
Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic.
Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic.
d. Berikan
cairan sesuai indikasi
Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel.
Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel.
e. Berikan
Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya.
Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll.
Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll.
4. Intoleransi
aktivitas b.d oksigenasi yang tidak adekuat,kelemahan,keletihan
a. Pantau
pasien untuk melakukan aktivitas
b. Kaji
fektor yang menyebabkan keletihan
c. Anjurkan
aktivitas alternatif sambil istirahat
d. Pertahankan
status nutrisi yang adekuat.
5. Resti
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan ureum
a. Kaji
terhadap adanya Mual, muntah dan anorexia.
Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi.
Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi.
b. Monitor
intake makanan dan perubahan berat badan ; Monitor data laboratorium : Serum
protein, Lemak, Kalium dan natrium.
Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.
Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.
c. Berikan
makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien.
Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet .
Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet .
d. Bantu
atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan.
Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan.
Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan.
e. Berikan
antiemetik dan monitor responya.
Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.
Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.
f. Kolaborasi
denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien.
Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.
Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Barbara,
Engram, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Doengoes, M.E. dan Moorhouse, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, C. Suzzane, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Doengoes, M.E. dan Moorhouse, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, C. Suzzane, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Suyono,
Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.:
Balai Penerbit FKUI
TUGAS SISTEM PERKEMIHAN
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN
GAGAL GINJAL KRONIK

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK
7
Dewi Nur Indahsari
Lulu Maulana
Nana
Nurgianti
Reni Asmara
Titin Smartinih
Vitri
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2012