Minggu, 21 Oktober 2012

ASKEP GGK

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A.    DEFINISI
Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan irreversibel (Mansjoer, 2001).

Gagal ginjal kronik adalah penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel di mana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen dan dalam darah) (Smeltzer Suzzane, 2001).

Gangguan fungsi ginjal adalah penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan ringan dan ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat. Uremia adalah sindrom akibat gagal ginjal yang berat gagal ginjal terminal adalah ketidakmampuan renal berfungsi dengan adekuat untuk keperluan tubuh (harus dibantu dialisis atau transplantasi) (Mansjoer, 2001).

B.    ETIOLOGI
1.     Diabetes mellitus
2.     Glomerulo nefritis kronis
3.      Piolenefritis
4.      Hipertensi yang tidak dapat dikontrol
5.      Obstruksi traktus urinarius
6.     Lesi herediter, seperti penyakit ginjal polikistik, gangguan vaskular infeksi medikasi atau agen toksik.
7.      Lingkungan dengan agen berbahaya : timah, merkuri dan kromium.
(Smeltzer, Suzzane, 2001)

C.    MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala gagal ginjal kronik disesuaikan dengan gangguan sistem yang timbul antara lain :
1.     sistem gastrointestinal : anoreksia, nausea, vomitus, stomatitis dan gastritis.
2.     Kult : warna pucat, gatal-gatal, ekimosis bekas garukan.
3.     Sistem hematologik : anemia, gangguan fungsi trombosit dan lekosit.
4.      Sistem saraf dan otot : pegal di tungkai bawah, rasa kesemutan dan terbakar di telapak kaki, lemah, tak bisa tidur, tremor. Sistem kardiovaskuler : hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema. Sistem endokrin : gangguan seksual, toleransi glukosa, metabolisme lemak, metabolisme vitamin D. (Soeparman dan Waspadji, 1998).

D.    PATOFISIOLOGI
Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat.

Penurunan jumlah glomeruli yang normal menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya glomerulo filtrat rate (GFR ) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang menyebabkan anoreksia, nausea maupan vomitus yang menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

Peningkatan ureum kreatinin sampai ke otak mempengaruhi fungsi kerja, mengakibatkan gangguan pada saraf, terutama pada neurosensori. Selain itu Blood Ureum Nitrogen (BUN) biasanya juga meningkat.

Pada penyakit ginjal tahap akhir urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan elektrolit. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal jantung kongestif. Penderita dapat menjadi sesak nafas, akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Dengan tertahannya natrium dan cairan bisa terjadi edema dan ascites. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume cairan dalam tubuh, sehingga perlu dimonitor balance cairannya. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosis metabolik akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Terjadi penurunan produksi eritropoetin yang mengakibatkan terjadinya anemia. Sehingga pada penderita dapat timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap aktifitas.

Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasari, ekskresi protein dalam urin, dan adanya hipertensi (Smeltzer,2002:1448).

E.     PENATALAKSANAAN
1.     Dialisis : Untuk memperbaiki abnormalitas biokimia.
2.     Transpaltasi ginjal
3.      Penanganan hiperkalemia
a. Pemberian ion pengganti renin secara oral
b. Pemberian glukosa, insulin, kalsium glikonat secara IV mendorong K+ ke 
     dalam sel-sel
4.     Mempertahankan keseimbangan cairan
5.     Pertimbangan nutrisi
Diet rendah protein, tinggi kalori, rendah kalsium dan fosfat
6.     Cairan IV dan diuretik

F.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.     Pemeriksaan Laboratorium
Penilaian CRF dengan ganguan yang serius dapat dilakukan dengan pemerikasaan laboratorium, seperti : Kadar serum sodium/natrium dan potassium/kalium, pH, kadar serum phospor, kadar Hb, hematokrit, kadar urea nitrogen dalam darah (BUN), serum dan konsentrasi kreatinin urin, urinalisis.

Pada stadium yang cepat pada insufisiesi ginjal, analisa urine dapat menunjang dan sebagai indikator untuk melihat kelainan fungsi ginjal. Batas kreatinin urin rata-rata dari urine tampung selama 24 jam. Analisa urine rutin dapat dilakukan pada stadium gagal ginjal yang mana dijumpai produksi urin yang tidak normal.

Dengan urin analisa juga dapat menunjukkan kadar protein, glukosa, RBCs/eritrosit, dan WBCs/leukosit serta penurunan osmolaritas urin. Pada gagal ginjal yang progresif dapat terjadi output urin yang kurang dan frekuensi urin menurun.Monitor kadar BUN dan kadar creatinin sangat penting bagi pasien dengan gagal ginjal.

Urea nitrogen adalah produk akhir dari metabolisme protein serta urea yang harus dikeluarkan oleh ginjal. Normal kadar BUN dan kreatinin sekitar 20 : 1. Bila ada peningkatan BUN selalu diindikasikan adanya dehidrasi dan kelebihan intake protein.

2.     Pemeriksaan Radiologi
Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan utntuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain:
a.      Flat-Plat radiografy/Radiographic keadaan ginjal, uereter dan vesika urinaria untuk mengidentifikasi bentuk, ukuran, posisi, dan kalsifikasi dari ginjal. Pada gambaran ini akan terlihat bahwa ginjal mengecil yang mungkin disebabkan karena adanya proses infeksi.
b.     Computer Tomograohy (CT) Scan yang digunakan untuk melihat secara jelas sturktur anatomi ginjal yang penggunaanya dengan memakai kontras atau tanpa kontras.
c.       Intervenous Pyelography (IVP) digunakan untuk mengevaluasi keadaan fungsi ginjal dengan memakai kontras. IVP biasa digunakan pada kasus gangguan ginjal yang disebabkan oleh trauma, pembedahan, anomali kongental, kelainan prostat, calculi ginjal, abses / batu ginjal, serta obstruksi saluran kencing.
d.     Aortorenal Angiography digunakan untum mengetahui sistem aretri, vena, dan kepiler pada ginjal dengan menggunakan kontras . Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada kasus renal arteri stenosis, aneurisma ginjal, arterovenous fistula, serta beberapa gangguan bentuk vaskuler.
e.      Magnetic Resonance Imaging (MRI) digunakan untuk mengevaluasi kasus yang disebabkan oleh obstruksi uropathi, ARF, proses infeksi pada ginjal serta post transplantasi ginjal.
3.     Biopsi Ginjal untuk mengdiagnosa kelainann ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu dianalisa. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus golomerulonepritis, neprotik sindom, penyakit ginjal bawaan, ARF, dan perencanaan transplantasi ginjal.

G.    ASUHAN KEPERAWATAN
Menurut Doengoes (2000), fokus pengkajian pada pasien gagal ginjal kronik antara lain :
1. Aktivitas / istirahat
    Gejala : Kelelahan ekstremitas, kelemahan, malaise, gangguan tidur.
    Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
2. Sirkulasi
    Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat, nyeri dada.
    Tanda : Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, nadi   
    lemah halus, pucat, kuning, kecenderungan perdarahan
3. Eliminasi
    Gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguri, anuri, diare, konstipasi.
    Tanda : Perubahan warna urine (kuning pekat, merah, coklat) digouria menjadi 
                 anuri.
4. Integritas ego
    Gejala : Faktor stress, perasaan tidak berdaya, tak ada kekuatan.
    Tanda : Menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung.
5. Makanan / cairan
    Gejala : Peningkatan berat badan dengan cepat, penurunan berat badan (mal   
                 nutrisi), anoreksia, mual muntah, nyeri ulu hati.
    Tanda : Asites, perubahan turgor kulit.
6. Neurosensori
    Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kejang, kesemutan dan kelemahan.
    Tanda : Ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilanan memori, rambut tipis, kuku  
                 rapuh dan tipis.
7. Nyeri dan kenyamanan
    Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala, nyeri dada.
    Tanda : Perilaku berhati-hati, gelisah.

8. Pernafasan
    Gejala : Napas pendek, batuk dengan atau tanpa sputum
    Tanda : Dispnea, peningkatan frekuensi, batuk
9. Keamanan
    Gejala : Kulit gatal
    Tanda : Pruritus, demam, fraktur tulang.
10. Interaksi sosial
    Gejala : Kesulitan menentukan kondisi

H.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.     Gangguan perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme.
2.     Kelebihan volume cairan sehubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan natrium
3.     Gangguan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pembatasan intake (Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori
4.     Resti Infeksi sehubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia
5.     Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit sehubungan dengan efek uremia.
6.     Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan

I.       INTERVENSI KEPERAWATAN  
1.     Gangguan perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme
Intervensi :
a.      Kaji Perubahan EKG, Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya)
Rasional : Tingginya gelombang T, Panjangnya interval PR dan Lebarnya kompleks QRS dihubungkan dengan serum Kalium ; Pernapasan kusmaul dihubungkan dengan acidosis, kejang yang mungkin terjadi dihubungkan dengan rendahnya calsium
b.     Monitor data-data laboratorium : Serum pH, Hidrogen, Potasium, bicarbonat, calsium magnesium, Hb, HT, BUN dan serum kreatinin.
Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal.
c.      Jangan berikan obat – obat Nephrothoxic.
Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal
d.     Berikan pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon terhadap pengobatan.
Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama.
e.      Monitor respon terhadap pengobatan untuk menentukan efektivitas obat yang diberikan dan kemungkinan timbulnya efek samping obat.

2.     Kelebihan volume cairan sehubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan natrium
Intervensi:
a.      Timbang berat badan pasien setiap hari, Ukur intake dan output tiap 24 jam, Ukur tekanan darah (posisi duduk dan berdiri), kaji nadi dan pernapasan (Termasuk bunyi napas) tiap 6-8 jam, Kaji status mental, Monitor oedema, distensi vena jugularis, refleks hepato jugular, Ukur CVP dan PAWP.
Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit.
b.     Monitor data laboratorium : Serum Natrium, Kalium, Clorida dan bicarbonat.
Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit.
c.      Monitor ECG
Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic.
d.     Berikan cairan sesuai indikasi
Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel.
e.      Berikan Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya.
Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll.

3.     Gangguan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pembatasan intake (Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori.
a.      Kaji terhadap adanya Mual, muntah dan anorexia.
Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi.
b.     Monitor intake makanan dan perubahan berat badan ; Monitor data laboratorium : Serum protein, Lemak, Kalium dan natrium.
Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.
c.      Berikan makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien.
Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet .
d.     Bantu atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan.
Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan.
e.      Berikan antiemetik dan monitor responya.
Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.
f.      Kolaborasi denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien.
Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.

4.     Resiko tinggi Infeksi sehubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia.
a.      Kaji terhadap adanya tanda- tanda infeksi.
Rasional : Untuk mendeteksi lebih awal adanya infeksi.
b.     Monitor temperatur tiap 4 – 6 jam : Monitor data laboratorium : WBC : Darah, Urine, culture sputum. Monitor serum Kalium.
Rasional : Uremia mungkin terselubung dan biasanya diikuti dengan peningkatan temperatur dicurigai adanya infeksi. Status hipermetabolisme seperti adanya infeksi dapat menyebabkan peningkatan serum kalsium.
c.      Pertahankan tekhnik antiseptik selama perawatan dan patulah selalu universal precaution.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi.
d.     Pertahankan kebersihan diri, status nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup.
Kebiasaan hidup yang sehat membantu mencegah infeksi.




5.     Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit sehubungan dengan efek uremia.
a.      Kaji terhadap kekeringan kulit, Pruritis, Excoriations dan infeksi.
Rasional : Perubahan mungkin disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsius dan phospat pada lapiran cutaneus.
b.     Kaji terhadap adanya petechie dan purpura.
Rasional : Perdarahan yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat uremia.
c.      Monitor Lipatan kulit dan area yang oedema.
Rasional : Area- area ini sangat mudah terjadinya injuri.
d.     Lakukan perawat kulit secara benar.
Rasional : Untuk mencegah injuri dan infeksi
e.      Berikan pengobatan antipruritis sesuai pesanan.
Rasional : mengurangi pruritis.
f.      Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih.
Rasional : Untuk mencegah injuri akibat garukan dan infeksi.


D.    Diagnosa Keperawatan
1.     Perubahan pola nafas b.d penurunan suplai O2
2.     Perfusi jaringan perifer b.d suplai O2 menurun,penurunan fungsi eritropoetin
3.     Kelebihan volume cairan b.d penurunan fungsi ginjal:ketidakmampuan ginjal mengekresi air dan natrium
4.     Intoleransi aktivitas b.d oksigenasi yang tidak adekuat,kelemahan,keletihan
5.     Resti perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan ureum

E.     Intervensi Keperawatan
1.     Perfusi jaringan perifer b.d suplai O2 menurun,penurunan fungsi eritropoetin
a.      Kaji Perubahan EKG, Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya)
b.     Rasional : Tingginya gelombang T, Panjangnya interval PR dan Lebarnya kompleks QRS dihubungkan dengan serum Kalium ; Pernapasan kusmaul dihubungkan dengan acidosis, kejang yang mungkin terjadi dihubungkan dengan rendahnya calsium
c.      Monitor data-data laboratorium : Serum pH, Hidrogen, Potasium, bicarbonat, calsium magnesium, Hb, HT, BUN dan serum kreatinin.
Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal.
d.     Jangan berikan obat – obat Nephrothoxic.
Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal
e.      Berikan pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon terhadap pengobatan.
Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama.
f.      Monitor respon terhadap pengobatan untuk menentukan efektivitas obat yang diberikan dan kemungkinan timbulnya efek samping obat.

2.     Perubahan pola nafas b.d penurunan suplai O2
a.      Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
Rasional :Menyatakan adanya pengumpulan sekret
b.     Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
Rasional: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
c.       Atur posisi senyaman mungkin
Rasional: Mencegah terjadinya sesak nafas
d.      Batasi untuk beraktivitas
Rasional : Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia
3.     Kelebihan volume cairan b.d penurunan fungsi ginjal:ketidakmampuan ginjal mengekresi air dan natrium
a.      Timbang berat badan pasien setiap hari, Ukur intake dan output tiap 24 jam, Ukur tekanan darah (posisi duduk dan berdiri), kaji nadi dan pernapasan (Termasuk bunyi napas) tiap 6-8 jam, Kaji status mental, Monitor oedema, distensi vena jugularis, refleks hepato jugular, Ukur CVP dan PAWP.
Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit.
b.     Monitor data laboratorium : Serum Natrium, Kalium, Clorida dan bicarbonat.
Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit.
c.      Monitor ECG
Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic.
d.     Berikan cairan sesuai indikasi
Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel.
e.      Berikan Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya.
Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll.

4.     Intoleransi aktivitas b.d oksigenasi yang tidak adekuat,kelemahan,keletihan
a.      Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
b.     Kaji fektor yang menyebabkan keletihan
c.      Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
d.     Pertahankan status nutrisi yang adekuat.

5.     Resti perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan ureum
a.      Kaji terhadap adanya Mual, muntah dan anorexia.
Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi.
b.     Monitor intake makanan dan perubahan berat badan ; Monitor data laboratorium : Serum protein, Lemak, Kalium dan natrium.
Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.
c.      Berikan makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien.
Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet .
d.     Bantu atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan.
Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan.
e.      Berikan antiemetik dan monitor responya.
Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.
f.      Kolaborasi denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien.
Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.





















DAFTAR PUSTAKA
Barbara, Engram, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Doengoes, M.E. dan Moorhouse, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, C. Suzzane, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit FKUI






















TUGAS SISTEM PERKEMIHAN
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN
GAGAL GINJAL KRONIK


                                 DISUSUN OLEH:
                                 KELOMPOK 7
                                 Dewi Nur Indahsari
                                 Lulu Maulana
                                 Nana
                                 Nurgianti
                                 Reni Asmara
                                 Titin Smartinih
                                 Vitri
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2012